<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.1d1 20130915//EN" "JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <journal-meta id="journal-meta-1">
      <journal-id journal-id-type="nlm-ta">Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="publisher-id">Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="journal_submission_guidelines">http://ojs.umsida.ac.id/index.php/rechtsidee/about/submissions#authorGuidelines</journal-id>
      <journal-title-group>
        <journal-title>UMSIDA Article Template 2 (Indonesian)</journal-title>
      </journal-title-group>
      <issn publication-format="print"/>
    </journal-meta>
    <article-meta id="article-meta-1">
      <article-id pub-id-type="publisher-id">2</article-id>
      <article-id pub-id-type="doi">10.21070/madrosatuna. v4i2.1039</article-id>
      <article-categories>
        <subj-group>
          <subject>Research Article</subject>
        </subj-group>
      </article-categories>
      <title-group>
        <article-title id="at-95c13dd30016">The Effect of Synectic Learning Models in Developing Student Creativity</article-title>
        <trans-title-group>
          <trans-title>Pengaruh Model Pembelajaran Sinektik Dalam Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik  </trans-title>
        </trans-title-group>
      </title-group>
      <contrib-group>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-9079c539ff6c">
            <surname>Pramusinta</surname>
            <given-names>Yulia</given-names>
          </name>
          <email>yulia1@gmail.com</email>
          <xref id="x-84aa619903ea" rid="a-19f962cefe21" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author">
          <name id="n-0109424d9f28">
            <surname>Rifanah</surname>
            <given-names>Farah Destria</given-names>
          </name>
          <email>farahdestria@gmail.com</email>
          <xref id="x-945f17b85590" rid="a-19f962cefe21" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <aff id="a-19f962cefe21">
          <institution>Program Studi Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Lamongan</institution>
          <country country="ID">Indonesia</country>
        </aff>
      </contrib-group>
      <volume>4</volume>
      <fpage>89</fpage>
      <permissions>
        <copyright-year>2020</copyright-year>
      </permissions>
      <abstract id="abstract-a278dc8201c9">
        <title id="abstract-title-68b6f41c98a4">Abstract</title>
        <p id="paragraph-7cbf3798c51f"> In the 21st century, one of the learning outcomes that students must have is creativity. Creating creative human resources can be through education or learning, one of which is by using a synectic learning model. The synectic learning model has a syntax that can foster student creativity. This study aimed to examine differences in the creative learning outcomes of students who are taught with the synectic model and students who learn using conventional learning models. The research method used is quasi-experimental. This research was conducted in January-February 2020. The population of this study was students in grade 3 at MI Bahrul Ulum Blawi with Indonesian subjects. The sampling method used was cluster random sampling. In this study, the sample was 2 classes using random sample sampling, one class as a control class taught using conventional methods, and one class as an experimental class taught using the synectic learning model. The number of research subjects in the experimental class was 22 students, and the control class consisted of 20 students. The research analysis used an independent sample t-test. The study results concluded that there was an influence between the synectic learning model on students' creativity in Indonesian lessons.</p>
      </abstract>
      <abstract xml:lang="id-Latn" id="abstract-88b72aae7662">
        <title id="abstract-title-54c7cb570aaf">Abstrak</title>
        <p id="paragraph-23ca507139db" xml:lang="id-Latn"> Pada era abad 21 salah satu hasil belajar yang harus dimiliki oleh siswa adalah kreatifitas. Menciptakan sumberdaya manusia yang kreatif dapat melalui pendidikan atau pembelajaran salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran sinektik. Model pembelajaran sinektik mempunyai sintaks yang dapat menumbuhkan kreatifitas siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan hasil belajar kreatifitas siswa yang dibelajarkan dengan model sinektik dan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari-februari 2020. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 3 di MI Bahrul Ulum Blawi dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 2 kelas dengan menggunakan sample random sampling, satu kelas sebagai kelas kontrol yang diajarkan menggunakan metode konvensional dan satu kelas sebagai kelas eksperimen yang diajarkan menggunakan model pembelajaran sinektik. Jumlah subyek penelitian kelas eksperimen sebanyak 22 siswa dan kelas kontrol berjumlah 20 siswaAnalisis penelitian menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara model pembelajaran sinektik terhadap kreatifitas siswa pada pelajaran bahasa indonesia.</p>
      </abstract>
      <kwd-group id="kwd-group-1">
        <title>Keywords</title>
        <kwd>Effectiveness</kwd>
        <kwd>Synectic Learning</kwd>
        <kwd>Creativity</kwd>
      </kwd-group>
      <kwd-group id="kg-593595cb0507" xml:lang="id-Latn">
        <title>Kata Kunci</title>
        <kwd>Evektivitas</kwd>
        <kwd>Pembelajaran Sinektik</kwd>
        <kwd>Kreatifitas</kwd>
      </kwd-group>
    </article-meta>
  </front>
  <body>
    <sec>
      <title id="t-ff26a51d6ccb">Pendahuluan</title>
      <p id="p-68f1c5b398bc">Indonesia sebagai Negara berkembang sangat membutuhkan sumber daya manusia sebagai tenaga-tenaga kreatif yang mampu memberikan sumbangan bermakna kepada ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian serta kepada kesejahteraan bangsa pada umumnya. Sudah tidak dipungkiri bahwa pebelajar kreatif menjadi solusi dalam pembangunan, gerakan yang kuat untuk memperbaiki pendidikan menekankan kepada hal yang disebut keterampilan abad 21 jenis-jenis keahlian yang telah maju ketika dunia global muncul (Joyce,2009) termasuklah didalamnya kreativitas.<xref id="x-336b5c17776f" rid="R92767720714767" ref-type="bibr">1</xref> </p>
      <p id="paragraph-2">Kondisi terhadap pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada pembelajaran yang bersifat satu arah, verbalistik, monoton, dan hapalan <xref id="x-fd8f0cb88238" rid="R92767720714760" ref-type="bibr">2</xref> sehingga pendapat <xref id="x-e147bf0905bd" rid="R92767720714765" ref-type="bibr">3</xref> ditakutkan praktik pendidikan kurang mengapresiasi terhadap kemampuan kreatif anak. Penelitian <xref id="x-d93151f4d71b" rid="R92767720714774" ref-type="bibr">4</xref> menunjukkan bahwa persepsi guru mengenai Peserta didik yang ideal hanya sedikit persamaannya dengan perilaku yang ditemukan pada pribadi-pribadi yang kreatif. Sebenarnya peran guru dapat mengembangkan kreativitas pebelajar yaitu berperan sebagai figur di kelas yang perilakunya akan ditiru oleh peserta didiknya dan berperan sebagai pencipta suasana kelas yang nyaman dan kondusif. Belajar kreatif <xref id="x-5064b52e589d" rid="R92767720714756" ref-type="bibr">5</xref> menyebut mampu menimbulkan kepekaan atau kesadaran peserta didik akan masalah, kekuarangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkam informasi yang ada, membataskan kesukaran, atau menunjukkan (mengidentifikasi) unsur yang tidak ada, mencari jawaban, membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya, menyempurnakan dan akhirmnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya  </p>
      <p id="paragraph-3">Menciptakan sumberdaya manusia yang kreatif dapat melalui pendidikan atau pembelajaran, dalam pandangan <xref id="x-8b8a92e66e22" rid="R92767720714752" ref-type="bibr">6</xref> kreativitas memiliki hubungan dengan pembelajaran yang disebutnya <italic id="emphasis-1">(creativity-in-learning) </italic> adalah lingkungan intrapsikologis, di mana penekanannya adalah pada peran yang dimainkan kreativitas dalam mengubah pemahaman pribadi (pebelajar) dan (<italic id="emphasis-2">learning-in-creativity) </italic> yakni bidang interpsikologi, di mana fokusnya adalah pada peran pembelajaran dalam memberikan kontribusi kreatif kepada orang lain. (Munandar, 2009) menyebut ciri pribadi yang kreatif yaitu: imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berpikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, bersedia mengambil risiko, dan berani dalam berpendirian dan berkeyakinan.</p>
      <p id="paragraph-4">Menurut beberapa penelitian menunjukan bahawa pembelajaran bahasa Indonesia masih menggunakan metode konvensional dan monoton. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah sistem pembelajaran masih terbilang konvesional hanya terfokus pada membaca dan hafalan <xref rid="R92767720714764" ref-type="bibr">7</xref>, <xref rid="R92767720714757" ref-type="bibr">8</xref> Hal tersebut tidak dapat mengasah kreatifitas peserta didik. Guna menyelesaikan permasalahan di atas diperlukan model pembelajaran yang dapat mengasah kreatifitas peserta didik.</p>
      <p id="paragraph-5">Model pembelajaran sinektik memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menumpahkan segala ide dan gagasan yang ada dipikarannya tanpa memperdulikan tata bahasanya. Gordon dalam <xref id="x-3ca1903525aa" rid="R92767720714763" ref-type="bibr">9</xref> mengatakan sinektik dirancang untuk meningkatkan kreativitas individu dan kelompok. Jadi bukan hanya untuk individual, namun peserta didik juga dapat mengembangkan dan mengeluarkan gagasan pada suatu masalah bersama dengan teman sekelasnya. Sinektik merupakan suatu pendekatan baru yang menarik guna mengembangkan kreativitas. Tujuan dari model ini adalah menumbuhkan kreativitas, sehingga diharapkan siswa mampu menghadapi setiap permasalahannya. Model ini menekankan segi penumbuhan kreativitas siswa. Kreativitas ini berhubungan dengan sikap emosional<xref id="x-9c0a8daf9c50" rid="R92767720714768" ref-type="bibr">10</xref> .</p>
      <p id="paragraph-6">Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran sinektik dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik pada mata pelajaran bahasa Indonesia di MI Bahrul Ulum Blawi</p>
      <sec>
        <title id="t-862014a731bf">Model Pembelajaran Sinektik</title>
        <p id="paragraph-7">Model pembelajaran sinektik adalah salah satu model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun model pribadi <xref id="x-3eb0f8b821d9" rid="R92767720714768" ref-type="bibr">10</xref> . Model sinektik pertama kali dikenalkan oleh William J.J. Gordon dalam bidang industri. Dia mengembangkan model ini untuk keperluan aktivitas individu dalam kelompok agar mereka dapat memecahkan suatu masalah (problem solver). Prinsip yang perlu dipegang dari model sinektik adalah jangan membatasi pengalaman yang mungkin diperoleh siswa, menghormati gagasan-gagasan siswa yang muncul, jangan menakuti siswa dengan nilai ujian, membiarkan siswa berproses ‘liar’, memberi ruang untuk mengadu pendapat, karena perbedaan individual sangat mungkin terjadi, kemudian memberikan motivasi siswa agar timbul ide-ide kreatif dan produktif.</p>
      </sec>
      <sec>
        <title id="t-c7d619df820a">Sintaks Model Pembelajaran Sinektik</title>
        <p id="paragraph-10">Beberapa proses sinektik tertentu dikembangkan dari beberapa asumsi tentang psikologi kreativitas. Asumsi pertama, dengan membawa proses kreatif menuju kesadaran dan dengan mengembangkan bantuan-bantuan eksplisit menuju kreativitas, siswa dapat secara langsung meningkatkan kapasitas kreatif secara individu maupun kelompok. Asumsi yang kedua adalah bahwa komponen emosional lebih penting daripada intelektual, irasional lebih penting daripada rasional. Asumsi ketiga adalah bahwa unsur-unsur emosional, irasional harus dipahami dalam rangka meningkatkan kemungkinan sukses dalam situasi pemecahan masalah<xref id="x-c5e746f61795" rid="R92767720714763" ref-type="bibr">9</xref> . </p>
        <table-wrap id="tw-0c14f320942f" orientation="portrait">
          <label>Table 1</label>
          <caption id="c-82e50eb11f0c">
            <title id="t-1d6f3deaa84e">Sintaks untuk Strategi Satu:  menciptakan sesuatu yang baru<xref id="x-1c50e8ee038f" rid="R92767720714763" ref-type="bibr">9</xref> </title>
          </caption>
          <table id="table-1" rules="rows">
            <colgroup>
              <col width="40.86"/>
              <col width="59.14"/>
            </colgroup>
            <tbody id="table-section-1">
              <tr id="table-row-1">
                <td id="table-cell-1" align="left">
                  <p id="paragraph-1">Fase Satu:</p>
                  <p id="p-90f205045913">Mendeskripsikan </p>
                  <p id="p-15a6108dd6b3">Kondisi yang ada</p>
                </td>
                <td id="table-cell-2" align="left">
                  <p id="p-d07c4ecf545f">Guru meminta siswa menjelaskan situasi atau topic ketika mereka melihatnya sekarang</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2">
                <td id="table-cell-3" align="left">
                  <p id="p-1987b9030af6">Fase Dua: </p>
                  <p id="p-02967118d925">Analogi langsung</p>
                </td>
                <td id="table-cell-4" align="left">
                  <p id="p-2650e0b3390e">Guru meminta siswa menjelaskan situasi atau topic ketika mereka melihatnya sekarang</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3">
                <td id="table-cell-5" align="left">
                  <p id="paragraph-8">Fase Tiga: </p>
                  <p id="paragraph-9">Analogi personal </p>
                </td>
                <td id="table-cell-6" align="left">
                  <p id="p-8155c6b24f79">Siswa menunjukkan analogi langsung, memilih satu analogi, dan mengeksplorasinya (mendeskripsikan) lebih lanjut</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4">
                <td id="table-cell-7" align="left">
                  <p id="paragraph-11">Fase Empat: </p>
                  <p id="paragraph-12">Konflik yang dipersingkat</p>
                </td>
                <td id="table-cell-8" align="left">
                  <p id="paragraph-13">Siswa-siswa “menjadi” analogi yang mereka pilih di fase dua</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5">
                <td id="table-cell-9" align="left">
                  <p id="paragraph-14">Fase Lima:</p>
                  <p id="paragraph-15">Analogi Langsung</p>
                </td>
                <td id="table-cell-10" align="left">
                  <p id="paragraph-16">Siswa mengambil deskripsi dari fase duadan tiga, menunjukkan beberapa konflik yang dipersingkat, dan memilih satu</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6">
                <td id="table-cell-11" align="left">
                  <p id="paragraph-17">Fase Enam:</p>
                  <p id="paragraph-18">Menguji Kembali tugas Asli</p>
                </td>
                <td id="table-cell-12" align="left">
                  <p id="paragraph-19">Siswa menghasilkan dan memilih satu analogi langsung lain, berdasarkan pada konflik yang dipersingkat</p>
                </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="p-284b1cd1b32d">Penjelasannya dalam <xref id="x-851f87763d74" rid="R92767720714763" ref-type="bibr">9</xref> strategi satu diatas membantu siswa melihat hal-hal familier dengan cara yang tidak familier dengan analogi-analogi untuk menciptakan jarak konseptual. Kecuali tahap akhir dimana siswa kembali ke masalah asli, mereka tidak membuat perbandingan sederhana.</p>
        <p id="p-f4b9e617d00c">Tujuan strategi ini memungkinkan untuk mengembangkan pemahaman baru; untuk berempati dengan <italic id="e-d485d1466801">show-off</italic> (sifat pamer) dan <italic id="e-27648917656c">bully</italic>; untuk merancang pintu utama atau kota; untuk memecahkan masalah social, atau masalah antar-personal, seperti pemogokan yang tidak perlu, atau dua siswa yang berkelahi; atau memecahkan masalah pribadi.</p>
        <table-wrap id="tw-ab9719cbed43" orientation="portrait">
          <label>Table 2</label>
          <caption id="c-94cc74682ed9">
            <title id="t-a06b5b637438">Sintak untuk Strategi Dua:  Membuat yang Aneh / Asing Menjadi Familier<xref id="x-db81889697d2" rid="R92767720714763" ref-type="bibr">9</xref> </title>
          </caption>
          <table id="t-2753c0b1e890" rules="rows">
            <colgroup>
              <col width="35.71"/>
              <col width="64.28999999999999"/>
            </colgroup>
            <tbody id="ts-2bbcfe553f8d">
              <tr id="tr-7e02415bf53b">
                <td id="tc-7438003ad222" align="left">
                  <p id="p-426838ccf9a0">Fase Satu:</p>
                  <p id="p-6e843841dd4e">Input Substantif</p>
                </td>
                <td id="tc-8403db7d3443" align="left">
                  <p id="p-7392712985b1">Guru memberikan informasi tentang topic baru</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-64a5e6c293c8">
                <td id="tc-4223632d961c" align="left">
                  <p id="p-4b3b2c81f380">Fase Dua: </p>
                  <p id="p-455fa1b190c2">Analogi langsung</p>
                </td>
                <td id="tc-ea559ba1a25c" align="left">
                  <p id="p-7b5def9a0f0e">Guru menunjukkan analogi langsung dan meminta siswa untuk mendeskripsikan analogi</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-4d68d82bffa5">
                <td id="tc-9ad37f28e3c0" align="left">
                  <p id="p-3a2d5fabf978">Fase Tiga: </p>
                  <p id="p-ab6f4f2b6f1c">Analogi personal</p>
                </td>
                <td id="tc-85305d2093f1" align="left">
                  <p id="p-cb3518454f1e">Guru meminta siswa “menjadi”analogi langsung</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-0ced5dfc2eaf">
                <td id="tc-bac9861073a1" align="left">
                  <p id="p-5821f6b5e791">Fase Empat: </p>
                  <p id="p-490ce45bd19d">Membandingkan Analogi</p>
                </td>
                <td id="tc-f9184fa2b7cb" align="left">
                  <p id="p-debfdaac7ee2">Siswa-siswa mengidentifikasi dan menerangkan poin-poin kesamaan antara bahan yang baru dan analogi langsung</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-b611db4e4c21">
                <td id="tc-cf0404225eb5" align="left">
                  <p id="p-ea8ed9c93b24">Fase Lima:</p>
                  <p id="p-28d05e47e001">Menerangkan perbedaan</p>
                </td>
                <td id="tc-bb267fbf49fd" align="left">
                  <p id="p-c90d74e034c9">Siswa-siswa menerangkan di mana analogi tidak cocok</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-fd1e0f5ab1d4">
                <td id="tc-abd4034ba531" align="left">
                  <p id="p-a85836b36eee">Fase Enam:</p>
                  <p id="p-e3e6b43f5274">Eksplorasi</p>
                </td>
                <td id="tc-ecfee8f17374" align="left">
                  <p id="p-7cffd66d32ee">Siswa-siswa mengeksplorasi kembali topic asli menurut istilah mereka sendiri</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-7">
                <td id="table-cell-13" align="left">
                  <p id="p-f991fc7ea40f">Fase Tujuh:</p>
                  <p id="paragraph-20">Menghasilkan Analogi langsung</p>
                </td>
                <td id="table-cell-14" align="left">
                  <p id="paragraph-21">Siswa-siswa memeberikan analogi langsunnya sendiri dn mengeksplorasi pemahaman mereka terhdap analogi tersebut</p>
                </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec>
        <title id="t-2984fd0fe373">Kreativitas</title>
        <p id="t-457b814760c1">Krativitas menurut Baron adalah kemampuan untuk menghasilkan atau enciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial<xref id="x-a46cab0cc1df" rid="R92767720714762" ref-type="bibr">11</xref> </p>
        <p id="p-6f026070d141">Kreativitas dan pembelajaran misalnya, mendapatkan definisi belajar kreatif dengan menggambar pada definisi dan deskripsi kreativitas dan pembelajaran sebelumnya. Mereka mendefinisikan pembelajaran kreatif sebagai "pembelajaran yang mengarah pada pemikiran baru atau orisinal yang ada”<xref id="x-2b6449401222" rid="R92767720714766" ref-type="bibr">12</xref>  bahwa "tindakan kreatif adalah contoh pembelajaran" dan menyarankan bahwa contoh pembelajaran kreatif adalah tindakan kreatif <xref id="x-b9b3a5602fbf" rid="R92767720714752" ref-type="bibr">6</xref>. </p>
        <p id="clipboard_property">Konsep pembelajaran kreatif sebelumnya cenderung tidak mewakili secara penuh aktivitas belajar kreatif, saling bergantung hubungan antara kreativitas dan pembelajaran. Apalagi peran yang subjektif dan engalaman interpersonal yang dimainkan dalam proses pembelajaran sering dikaburkan. Dengan demikian, konsep  elajar kreatif mungkin mendapat manfaat yang terbagi menjadi dua sub konsepsi: kreativitas-dalam-pembelajaran dan pembelajaran-dalam-kreativitas <italic id="e-d37d4a649654">Yang pertama</italic>, kreativitas dalam pembelajaran, mengacu pada peran yang dimainkan kreativitas engembangan pemahaman pribadi. <italic id="e-47fbcd7d5be8">Yang kedua</italic>, belajar dalam kreativitas, mengacu pada eran yang saling berbagi dalam memainkan peran dalam memberikan kontribusi kreatif kepada orang lain <xref id="x-a90aa921d096" rid="R92767720714752" ref-type="bibr">6</xref>. NACCCE mendefinisikan kreativitas sebagai 'aktivitas imajinatif yang dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil yang asli dan bernilai (National Advisory Committee for Creative and Cultural Education (NACCCE, 1999) . Kreativitas memainkan peranan dalam pembelajaran dengan memberi perhatian pada respon-respon emosional dan estetika terhadap pembelajaran, kreativitas akan meningkatkan pemahaman dan mendorong perkembangan. Kreativitas dapat mempertajam bagian-bagian otak yang berhubungan dengan kognitif murni. Dengan mengembangkan dan menggunakan semua kekuatan otak, pembelajaran akan bisa dimaksimalkan <xref id="x-b8f3bafa0c47" rid="R92767720714758" ref-type="bibr">13</xref> .  </p>
        <table-wrap id="tw-e172c64a8c2e" orientation="portrait">
          <label>Table 3</label>
          <caption id="c-380a29a41570">
            <title id="t-3bd9ef083ac5">Indikator Berfikir Kreatif</title>
          </caption>
          <table id="t-85fc90c93d3a" rules="rows">
            <colgroup>
              <col width="31.43"/>
              <col width="68.57"/>
            </colgroup>
            <thead id="ts-8c0786694218">
              <tr id="tr-dc79a2bf5244">
                <th id="tc-c7ec7c93122c" align="left">
                  <p id="p-b841a44e63cb">Indikator</p>
                </th>
                <th id="tc-6bf719977429" align="left">
                  <p id="p-419780cd0758">Deskriptor</p>
                </th>
              </tr>
            </thead>
            <tbody id="ts-cc0cfac95cd9">
              <tr id="tr-43107aac09ed">
                <td id="tc-104c3af7a86b" align="left">
                  <p id="p-d5f31435a674">Berpikir Lancar<italic id="e-6bd4e4f0a465"/><bold id="strong-1"/></p>
                </td>
                <td id="tc-6a39e1d5c0f1" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="list-item-1">
                      <p>Mengajukan banyak pertanyaan</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="list-item-2">
                      <p>Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="list-item-3">
                      <p>Bekerja lebih cepat dari teman lain</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="list-item-4">
                      <p>Melakukan lebih banyak dari pada teman yang lain</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-5ee7605c92aa">
                      <p>Dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek atau situasi</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-6d55bb0cf522">
                <td id="tc-44b7b8a6a29c" align="left">
                  <p id="p-f1746233e02b">Berpikir luwes</p>
                </td>
                <td id="tc-59270d7aeb53" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-f13d63de87fa">
                      <p>Memberikan macam-macam penafsiran terhadap suatu gambar, cerita atau masalah.</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-e65cc793546e">
                      <p>Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-1282cf7f9966">
                      <p>Memberikan pertimbangan atau mendiskusikan sesuatu selalu memiliki posisi yang berbeda atau bertentangan dengan mayoritas kelompok</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-ebd5d23c9a4b">
                      <p>Jika diberi suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-d1d7a8fe3750">
                <td id="tc-bb9cc40118bb" align="left">
                  <p id="p-77fafdf939d9">Berpikir Orisinal<italic id="e-9b0659c6a682"/><bold id="s-2e9a9acd870f"/></p>
                </td>
                <td id="tc-65bd9bf89862" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-2af5a68d742d">
                      <p>Memikirkan masalah-masalah atau hal yang tak pernah terpikirkan orang lain</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-7fe7f418c53c">
                      <p>Mempertanyakan cara-cara lama dan berusaha memikirkan cara-cara baru</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-1641bf78f663">
                      <p>Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-ccdc877ced3c">
                      <p>Setelah mendengar atau membaca gagasan, bekerja untuk mendapatkan penyelesaian yang baru</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-b75cfc331949">
                <td id="tc-f0034b8ae0c3" align="left">
                  <p id="p-98a2349e7008">Berpikir</p>
                </td>
                <td id="tc-4a797cbab753" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-53d58a2097b7">
                      <p>Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-d04584a9ec8c">
                      <p>Mengembangkan/memperkaya gagasan orang lain</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-dbf43fe7d0a9">
                      <p>Cenderung memberi jawaban yang luas dan memuaskan</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-5728887b5681">
                      <p>Mampu membangun keterkaitan antar konsep</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-53338ab635a3">
                <td id="tc-00fb3a79ea3a" align="left">
                  <p id="p-9e5d4540f605">Berpikir evaluatif</p>
                </td>
                <td id="tc-b3cbfcc2e33d" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-c13ba66f32e1">
                      <p>Memberi pertimbangan atas dasar sudut pandang sendiri</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-47b96742d0cd">
                      <p>Menganalisis masalah / penyelesaian secara kritis dengan selalu menanyakan “mengapa?”</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-7e2bf3ffa324">
                      <p>Mempunyai alasan (rasional) yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-87598371f0ee">
                      <p>Menentukan pendapat dan bertahan terhadapnya</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-de2920c7c1ec">
                <td id="tc-57f69f489028" align="left">
                  <p id="p-db1d4b1abe7e"/>
                </td>
                <td id="tc-2386b5700ffd" align="left">
                  <p id="p-9f0ebd91e239"/>
                </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <table-wrap id="tw-a6db8a6f5735" orientation="portrait">
          <label>Table 4</label>
          <caption id="c-14a8e4487fd1">
            <title id="t-a6510222df7b">Dimensi Berpikir Kreatif<xref id="x-16bfeb3a3ca4" rid="R92767720714773" ref-type="bibr">14</xref> </title>
          </caption>
          <table id="t-ab29efd6811f" rules="rows">
            <colgroup>
              <col width="46.29"/>
              <col width="53.71"/>
            </colgroup>
            <thead id="ts-09dd66994d34">
              <tr id="tr-5a60d83306d8">
                <th id="tc-eddc0f2264f3" align="left">
                  <p id="p-ed0aae7ba5bc">Dimensi Creative Thinking</p>
                </th>
                <th id="tc-1b7917a18f4f" align="left">
                  <p id="p-60f80ff1b250">Deskripsi dimensi Creative Thinking</p>
                </th>
              </tr>
            </thead>
            <tbody id="ts-efd0605b7c37">
              <tr id="tr-b532bf235cda">
                <td id="tc-64479c42dc42" align="left">
                  <p id="p-a51f98918a44">
                    <italic id="e-6c1542e2330c">Novelty</italic>
                  </p>
                </td>
                <td id="tc-5c06e1776d76" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-cf05415ae14e">
                      <p>Kemampuan memproduksi ide-ide baru</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-84d73112776c">
                      <p>Kemampuan mengkombinasi ide-ide</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-a2de74dd35c9">
                      <p>Kemampuan memodifikasi ide-ide</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-97822f1e1829">
                <td id="tc-333616535119" align="left">
                  <p id="p-cbc88311888a">
                    <italic id="e-59dd8edb5cc7">Divergent Thinking</italic>
                  </p>
                </td>
                <td id="tc-b87f774008b7" align="left">
                  <list list-type="bullet">
                    <list-item id="li-c3ce9b46285c">
                      <p>Kemampuan memproduksi banyak ide</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-d52cd2abb9b5">
                      <p>Mempunyai prespektif yang berbeda</p>
                    </list-item>
                    <list-item id="li-763c58383cfb">
                      <p>Kemampuan berpikir imajinatifKemampuan mengembangkan ide-ide sulit</p>
                    </list-item>
                  </list>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-3b229af0b727">
                <td id="tc-d03751e5c916" align="left">
                  <p id="p-639c1554c0ed"/>
                </td>
                <td id="tc-efbdcbba843f" align="left">
                  <p id="p-c5e9d3166bc6"/>
                </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec>
        <title id="t-adc6a31a7e0f">Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di MI</title>
        <p id="p-b9cca3ea019b">Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang memberikan keterampilan bagi siswa untuk dapat berbahasa Indonesia yang baik dan juga benar. Bahasa Indonesia juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi sosial atau alat yang dibutuhkan oleh seseorang agar dapat berinteraksi dengan orang lain. Bahasa sendiri memiliki empat keterampilan yaitu, menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat komponen tersebut saling berhubungan dan harus seimbang sehingga dapat mendukung dalam proses berkomunikasi. Dengan adanya pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SD/MI maka sangat membantu dalam pengenalan bahasa sejak dini. Semakin dini pengajaran bahasa yang dilakukan oleh seorang guru maka siswa dapat lebih sering berlatih dan kemampuan berbahasa (berkomunikasinya) akan semakin baik. Karena tujuan dari bahasa Indonesia sendiri ialah untuk memudahkan seseorang agar dapat berkomunikasi dengan efisien dan tepat sesuai dengan etika yang berlaku di masyarakat. </p>
        <p id="p-20fa1a6eeae3">Dalam penelitian ini untuk mengukur kreatifitas peserta didik dilaksanakan pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas 3 semester 2 pada tema 5. Pemilihan materi pembelajaran bahasa Indonesia dengan tema menulis dan mengarang cerita pendek sangat tepat dalam mengasah kreatifitas peserta didik.</p>
        <p id="p-7efcc77889a3"/>
      </sec>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-d3637d75b941">Metode</title>
      <p id="t-f37dcc0493e1">Penelitian ini merupakan penelitian kuantitiatif, yang didasarkan pada desain quasi eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari-februari 2020. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 3 di MI Bahrul Ulum Blawi dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 2 kelas dengan menggunakan sample random sampling, satu kelas sebagai kelas kontrol yang diajarkan menggunakan metode konvensional dan satu kelas sebagai kelas eksperimen yang diajarkan menggunakan model pembelajaran sinektik. Jumlah subyek penelitian kelas eksperimen sebanyak 22 siswa dan kelas kontrol berjumlah 20 siswa. Pengumpulan data dilakukan dar nilai hasil belajar bahasa Indonesia pada materi menulis cerita pendek atau menarang cerita. Analisis penelitian menggunakan independent sample t-test untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh model sinektik dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik.</p>
      <p id="p-3e65ed0e4674"/>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-bef23554d878">Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec>
        <title id="t-fb8d7b028aa4">Perbandingan rata-rata hasil belajar dan kreatifitas pada kelas eksperimen dan kelas kontrol</title>
        <table-wrap id="tw-0327a7c6841b" orientation="portrait">
          <label>Table 5</label>
          <caption id="c-cd075dc3c63d">
            <title id="t-78e164ebdade">Group Statistics</title>
          </caption>
          <table id="t-cecb1e115861" rules="rows">
            <colgroup>
              <col width="30.869999999999997"/>
              <col width="9.129999999999997"/>
              <col width="20"/>
              <col width="20"/>
              <col width="20"/>
            </colgroup>
            <thead id="ts-cf337a7e26e7">
              <tr id="tr-39175d5b220f">
                <th id="tc-2ec4252b0099" align="left">
                  <p id="p-cb49abe63e42">Kelas</p>
                </th>
                <th id="tc-0ede665005b7" align="left">
                  <p id="p-af3d9d4c0eb6">N</p>
                </th>
                <th id="tc-034607b053dd" align="left">
                  <p id="p-e598caaa7a63">Mean</p>
                </th>
                <th id="tc-6769a15cd8fd" align="left">
                  <p id="p-55fcbc1e949a">Std. Deviation</p>
                </th>
                <th id="tc-7e7b1e83a9c3" align="left">
                  <p id="p-a46c9d5c98ec">Std. Eror Mean</p>
                </th>
              </tr>
            </thead>
            <tbody id="ts-b912e99ed196">
              <tr id="tr-276f985c5679">
                <td id="tc-1234f33638b8" align="left">
                  <p id="p-f3e99afbdc78">Hasil belajar kelas eksperimen</p>
                </td>
                <td id="tc-1701e673e837" align="left">
                  <p id="p-f57cc181bd89">22</p>
                  <p id="p-340a5c01be98"/>
                  <p id="p-7133a7c88e48">20</p>
                </td>
                <td id="tc-b6879be25995" align="left">
                  <p id="p-977f3fa37f98">86.3182</p>
                  <p id="p-587d176d0634"/>
                  <p id="p-704163355217">68.000</p>
                </td>
                <td id="tc-1142ca7479f1" align="left">
                  <p id="p-1352dc7f3ed6">7.94856</p>
                  <p id="p-643f5df20da8"/>
                  <p id="p-62c8ba58f349">5.23148</p>
                </td>
                <td id="tc-f63c41c144c0" align="left">
                  <p id="p-21733baf483d">1.69464</p>
                  <p id="p-704fe7e07e02"/>
                  <p id="p-7c50a0d82a80">1.16980</p>
                </td>
              </tr>
              <tr id="tr-dde438dddced">
                <td id="tc-6e64fd93fff3" align="left">
                  <p id="p-924ac4502735"/>
                </td>
                <td id="tc-2a67d274dd2d" align="left">
                  <p id="p-779657c1e865"/>
                </td>
                <td id="tc-e34c9f64b2b7" align="left">
                  <p id="p-28e1a145a941"/>
                </td>
                <td id="tc-fb1e70d36716" align="left">
                  <p id="p-56ca7d5457b6"/>
                </td>
                <td id="tc-54506a085799" align="left">
                  <p id="p-d71c5756a341"/>
                </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="p-1ca08496fd56">Pada tabel 5 diatas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata hasil belajar pada kelas eksperimen sebesar 86,3182, sedangkan nilai rata-rata hasil belajar pada kelas kontrol adalah sebesar 68,0000. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai hasi belajar kelas eperimen yang mengunakan modep pembelajaran sinektik pada pembelajaran bahasa indonesia lebih baik daripada nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang menggunakan model konvensional.</p>
        <p id="p-5ca86a3190b3">Konsep dasar uji independent sample t test dipergunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar anatara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dasar pengambilan keputusan pada uji independent sample t test adalah jika nilai sig (2-tailed)˂0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari data pengujian independent sample t test diperoleh signifikansi yang berbeda yaitu nilai sig berada di bawah 0,05. Nilai sig (2-tailed) sebesar 0.000, dan hipotesis diterima dengan kata lain bahwa kreatifitas siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Maka dapat disimpulkan jika model pembelajaran sinektik lebih unggul daripada metode konvesnsional dalam mengembangkan kreatifitas siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.</p>
        <p id="p-7c1c0dd1635b"/>
      </sec>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-cd1763aa13dd">Kesimpulan</title>
      <p id="p-28bd935f1d0c"> terdapat perbedaaan hasil belajar kreatifitas siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran sinektik. kesimpulan dari penelitian ini juga menunjukan adanya peningkatan hasil belajar kreatifitas siswa setelah belajar menggunakan model sinektik pada pembelajaran bahasa Indonesia. Saran untuk penelitian lebih lanjut adalah agar peneliti selanjutnya untuk bisa mengembangkan kreatifitas siswa dengan menggunakan metode atau model pembelajaran yang lebih bervariatif dan berbasis HOTS.</p>
      <p id="p-ea3a3f22261b"/>
      <p id="p-a5f570a83691"/>
      <p id="p-54bcf2db0102"/>
    </sec>
  </body>
  <back>
    <ref-list>
      <title>References</title>
      <ref id="R92767720714767">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Greenstein</surname>
              <given-names>Laura</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <article-title>Assesing 21st Century Skills: A Guide to Evaluating Mastery and Authentic Learning</article-title>
          <publisher-name>Corwin A SAGA Company</publisher-name>
          <publisher-loc>California</publisher-loc>
          <year>2012</year>
          <isbn>978-1452218014</isbn>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714760">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Lie</surname>
              <given-names>Anita</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor">
            <etal/>
          </person-group>
          <article-title>Cooperative Learning, Memperaktikkan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas</article-title>
          <publisher-name>Gramedia</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>2004</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714765">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Schmidt</surname>
              <given-names>Pamela Braverman</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Creativity And Coping Later Life</article-title>
          <source>Generation</source>
          <year>2006</year>
          <volume>30</volume>
          <issue>1</issue>
          <fpage>27</fpage>
          <lpage>31</lpage>
          <publisher-name>American Society on Aging</publisher-name>
          <publisher-loc>American</publisher-loc>
          <uri>https://www.jstor.org/stable/26555439?seq=1#metadata_info_tab_contents</uri>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714774">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Munandar</surname>
              <given-names>Sukarni catur Utami</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor">
            <etal/>
          </person-group>
          <article-title>Creativity and Education</article-title>
          <publisher-name>Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>1977</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714756">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Cropley</surname>
              <given-names>Arthur J.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <article-title>More Ways Than One: Fostering Creativity</article-title>
          <publisher-name>Albex</publisher-name>
          <publisher-loc>New Jersey</publisher-loc>
          <year>1994</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714752">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Beghetto</surname>
              <given-names>Ronald A.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Creative Learning: A Fresh Look</article-title>
          <source>Journal of Cognitive Education and Psychology</source>
          <year>2016</year>
          <volume>15</volume>
          <fpage>6</fpage>
          <lpage>23</lpage>
          <issn>1945-8959, 1810-7621</issn>
          <object-id pub-id-type="doi">10.1891/1945-8959.15.1.6</object-id>
          <publisher-name>Springer Publishing Company</publisher-name>
          <uri>https://dx.doi.org/10.1891/1945-8959.15.1.6</uri>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714764">
        <element-citation publication-type="thesis">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Rahayu</surname>
              <given-names>Yanti Sri</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Penerapan Model Sinektik Berorientasi Berfikir Kreatif dalam Pembelajaran Menulis Deskripsi Siswa SMP</article-title>
          <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
          <institution>Universitas Pasundan</institution>
          <month>Desember</month>
          <year>2016</year>
          <uri>http://repository.unpas.ac.id/13961/</uri>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714757">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Umar</surname>
              <given-names>Mansyur</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Pendekatan Proses</article-title>
          <source>Jurnal Retorika</source>
          <year>2016</year>
          <volume>9</volume>
          <issue>2</issue>
          <fpage>90</fpage>
          <lpage>106</lpage>
          <object-id pub-id-type="doi">https://doi.org/10.26858/retorika.v9i2.3806</object-id>
          <publisher-name>Universitas Negeri Makassar</publisher-name>
          <publisher-loc>Makassar</publisher-loc>
          <uri>https://ojs.unm.ac.id/retorika/article/view/3806</uri>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714763">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Joyce</surname>
              <given-names>Bruce R.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Weil</surname>
              <given-names>Marsha</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Showers</surname>
              <given-names>Beverly</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor">
            <etal/>
          </person-group>
          <article-title>Models of Teaching</article-title>
          <publisher-name>Allyn &amp; Bacon</publisher-name>
          <publisher-loc>Universitas Michigan</publisher-loc>
          <year>2009</year>
          <fpage>1</fpage>
          <lpage>492</lpage>
          <isbn>0205133983, 9780205133987</isbn>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714768">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Suryaman</surname>
              <given-names>Maman</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <article-title>Metodologi Pembelajaran Bahasa</article-title>
          <publisher-name>Univerisitas Negeri Yogyakarta Press</publisher-name>
          <publisher-loc>Yogyakarta</publisher-loc>
          <year>2012</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714762">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Munandar</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor">
            <etal/>
          </person-group>
          <article-title>Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat</article-title>
          <publisher-name>PT. Rineka Cipta</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>2009</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714766">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Guilford</surname>
              <given-names>J. P.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>The structure of intellect.</article-title>
          <source>Psychological Bulletin</source>
          <year>1956</year>
          <volume>53</volume>
          <issue>4</issue>
          <fpage>267</fpage>
          <lpage>293</lpage>
          <issn>0033-2909, 1939-1455</issn>
          <object-id pub-id-type="doi">10.1037/h0040755</object-id>
          <publisher-name>American Psychological Association (APA)</publisher-name>
          <uri>https://dx.doi.org/10.1037/h0040755</uri>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714758">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Brierley</surname>
              <given-names>John</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <article-title>Human Birthright: Giving the Young Brain a Chance</article-title>
          <publisher-name>BAECE</publisher-name>
          <publisher-loc>London</publisher-loc>
          <year>1984</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R92767720714773">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Vidal</surname>
              <given-names>René Victor Valqui</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Creativity for Operation Researchers. Portugal: Investigation and Operational</article-title>
          <source> Investigation and Operational</source>
          <year>2005</year>
          <volume>25</volume>
          <issue>1</issue>
          <issn>0874-5161</issn>
          <object-id pub-id-type="doi">https://doi.org/10.1590/S0101-74382006000100004 </object-id>
          <publisher-name>Investigação Operacional</publisher-name>
          <publisher-loc>Portugal</publisher-loc>
          <uri>http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&amp;pid=S0101-74382006000100004</uri>
        </element-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back>
</article>
